Berita Terbaru :

KOTAMOBAGU

Lihat Lainnya »

BOLMONG

Lihat Lainnya »

BOLTIM

Lihat Lainnya »

BOLSEL

Lihat Lainnya »

BOLMUT

Lihat Lainnya »

SULAWESI UTARA

Lihat Lainnya »
Tampilkan postingan dengan label LIPU NATON. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LIPU NATON. Tampilkan semua postingan

Desa Muntoi Lahir Dari Sebuah Sungai

Kamis, 15 November 2012

Sejarah Desa
Desa Muntoi Lahir Dari Sebuah Sungai

Peliput            : Muslim paputungan
Editor              : Dhidink
 
Mulanya Desa Muntoi hanya sebuah lokasi perkebunan, yang diapit dengan 7 buah sungai diantaranya sungai Muntoi, Tapa Letung, Tapa Gapatan, Tapa Dulilow, Tapa Onaoon, dan Tapa sinagaan. Lokasi tersebut menarik perhatian dari berbagai desa untuk berkebun.

Seiring berjalan waktu, perkebunan tersebut  menjadi luas dan ramai sehingga  mereka memutuskan untuk memilih tinggal dan  menamainya 
“Muntoi.

Desa Muntoi merupakan salah satu dari desa yang berada di kecamatan Passi Barat yang terletak 17 Km Arah Timur Kotamobagu dengan luas wilayah seluas kurang lebih 7,5 Km Bujur sangkar. Dengan jumlah penduduk yang terbagi di beberapa dusun,  diantaranya Dusun satu berjumlah  299 jiwa, Dusun dua 267, Dusun tiga 210, Dusun empat  270, jiwa dan Dusun lima berjumlah 323 jiwa. Sebagian penduduk desa tersebut bermata pencaharian sebagai petani.

Sementara itu, sejak tahun 1931 Muntoi telah resmi menjadi sebuah desa dengan kepala desa (Sangadi) pertama S.G Tunggali, dan saat ini dipimpin oleh sangadi Mince Y taroreh dari 2007 hingga sekarang.

Desa ini merupakan tempat persinggahan warga yang melakukan perjalanan jauh. Dipinggir jalan trans AKD, terdapat jejeran warung yang menjual aneka makanan terutama Dodol dan Lalampa. Daerah ini sangat terkenal dengan daerah kuliner tersebut.(*)


Desa Tuntung Berawal Dari Bunyian Gong “Tung tung tung”

Selasa, 13 November 2012


Sejarah Desa

Desa Tuntung Berawal Dari Bunyian 


Gong “Tung tung tung”
 

Peliput             : Muslim Paputungan
Editor               : Didink


 

Berdasarkan informasi yang  Dihimpun oleh Media Totabuan dari berbagai sumber diantaranya Almarhum S.P Guhung Yang telah menititipkan  sebuah naskah sejarah Desa tuntung  yang ditulis Beliau, kami mengucapkan terima kasih dan syukur moanto  semoga almarhum ditempatkan di dikalangan orang-orang Sholeh Dan Takwa.
 
Bolaang Mongondow utara- Pada zaman dahulu kala, ada suatu tempat yang berada disebelah barat Kecamatan Kaidipang Kabupaten Bolaang Mongodow. Lokasi itu terletak di tepi pantai  yang berbentuk semacam teluk yang dikerumuni pohon-pohon serta rumput yang hijau
Sehingga membuat tempat itu terlihat strategis dan indah dipandang.

Lokasi itu  ternyata sebuah tempat yang  dihuni oleh manusia-manusia atau sekelompok orang yang berbadan  kecil-kecil, keseharianya bekerja mengambil hasil hutan seperti rotan, kayu dan lainnya.

Para kelompok ini terkadang juga sering turun ke pantai sambil membawa rotan, kayu hasil olahan mereka. Selain itu  Nampak terlihat sebuah bangunan yang berdiri dengan bebrapa pohon kayu terlihat seperti gubuk dengan  ditutup dengan daun woka,  merupakan tempat dimana mereka beristirahat , Walaupun gubuk tersebut berdekatan dengan pantai, Namun lokasi itu tidak pernah tersentuh oleh gelombang air.

Tidak jauh dari lokasi itu terdapat sebuah sungai yang sewaktu-waktu digunakan sebagai tempat untuk menangkap ikan, Selain ikan, mereka juga mengkonsumsi makanan sagu yang didapat dari pohon enau.

Seiring dengan  berjalannya waktu, pada abad ke – XVII ada sebuah perahu yang sempat berlabuh di lokasi tersebut, yang dipimpin oleh Raja Datu Binangkang, ketika perahu itu tiba di teluk secara bersamaan membuyikan sebuah Gong sebagai pertanda kapal telah berlabuh dengan bunyi “
Tung Tung Tung”.

Bunyi tersebut membuat para kelompok tadi langsung bergegas untuk turun dan melihat ketempat  arah bunyi itu.  Dari peristiwa berlabuhnya kapal itu sehingga mereka mengadakan musyawarah dan menanamainya “Tuntung”.

Sementara itu, Pada tahun 1908 terbentuklah Desa Tuntung yang dipimpin oleh Juka Hapili yang memerintah sejak tahun 1908 – 1913. Pada masa pemerintahan Juka, Masyarakat merasa aman dan selalu hidup berkasih sayang kepada satu sama lain.

Semenjak berdirinya desa tuntung,  beberapa Kepala Desa yang sempat menjabat diantaranya, Djuka Hapili dari 1908-1913, Djukalang Hankiho 1913-1918, Bomo Korompot  1918-1924, Kasili Buhang 1924-1930, Leo Mokodompis 1930 – 1933, Ain Antogia 1933-1936,Pilek Buhang 1936,  Bolano Buhang 1936-1947, Dudo Toana 1947, Walem Antogia 1947 – 1948, Hasan Buhang 1948, uno 1948-1949, Bolano  Buhang 1949-1950, après korompot 1950-1956, nasira mokodompis 1956-1957, Boupe Hankiho 1957-1958, Après Korompot 1958-1960 , Boupe Hangkiho 1960-1963, Abas Gumohong 1960- 1964, Boupe Hankihong 1964-1971, Suardi Gobe 1971-1972, Après Korompot 1972-1975, Abdul Latif Salute 1975-1982, Agi Inggirina 1982-2004, Alim  Hangkiho 2004-2009 dari data diatas memang beberapa pemimpin yang sempat menjabat kepala desa berulang kali. Hingga kini desa tuntung dipimpin oleh  Alim Hankiho.(*)


Desa Inuai Berasal dari Kata "Uai"


Sejarah Desa
  
Desa  Inuai Berasal dari Kata "Uai" 
 

Gunung Dongkol Perkebunan warga Inuai (Foto Lim)
Peliput       : Muslim Paputungan
Editor         : Didink



Kita beralih ke sejarah sebuah desa yang sering dilewati dari arah Kotamobagu menuju Inobonto, Desa tersebut bernama Desa Inuai. Menurut cerita warga, pada zaman dahulu kala, sekelompok leluhur Bolaang Mongondow merantau untuk mencari sebuah kota yang bernama Kotamobagu. Dalam perjalanan, mereka  sempat beristirahat di sebuah tempat untuk  makan, dan juga mempersiapkan bekal mereka dalam meneruskan  perjalan nanti.

Setelah beberapa menit  selesai beristirahat,  mereka pun melanjutkan kembali perjalanan, Namun ditengah-tengah perjalanan, para kelompok leluhur ini bertemu dengan beberapa orang. Dialog sempat terjadi, ternyata orang-orang tersebut juga ingin pergi ke Kotamobagu.

Mereka menyempatkan waktu untuk beristirahat dengan para kelompok itu, masak besama dan juga  makan bersama. Setelah tiba siang hari mereka mempersiapkan bekal  untuk  melanjutkan kembali perjalanan.

Salah satu dari mereka mengangkat bekal tersebut, dan berkata (uaiyon in ka’anon- Angkat makanan), Kata itu mendapat respon dari para leluhur dan menamakan Lokasi yang mereka singgahi itu dengan nama
“Inuai”.

Seiring berjalanya waktu , para penduduk berdatangan untuk membuka perkebunan di Inuai, sehingga pada tahun 1990 pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow menjadikan Inuai sebagai pedukuan, dengan kepala pedukuan Arip Paputungan.

Pada tahun 2002 status pedukuan berubah dan menjadi Desa.

Jumlah kepala keluarga berdasarkan data dari pihak pemerintah desa  berjumlah 556 jiwa yang terbagi dari laki-laki 332 jiwa dan perempuan 224 dengan jumlah kepala keluarga 134 jiwa. Dari pantauan kami desa inuai terdapat puskesmas pembantu, untuk membantu warga jika sakit.
(*) 

Tugu Poyowa Kecil, Konon Pernah Dibuat Patung Inde Dou

Senin, 05 November 2012

Tugu Poyowa Kecil, Konon Pernah Dibuat Patung Inde Dou

Peliput : Muslim Paputungan
Editor : Dhidink



Zaman dahulu, pernah ada patung yang didedikasikan untuk Bogani Inde Dou, namun keberadaan patung ini masih menjadi tanda tanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Media Totabuan dari penuturan warga poyowa kecil, tugu tersebut pernah dibuatkan patung Inde Dou.
Hal ini telah diyakini oleh masyarakat Poyowa Kecil  zaman dahulu.

Menurut warga, Inde Dou lahir di Poyowa Kecil sehingga warga setempat ingin mengabadikanya dengan membuat patung inde dou, namun pembuatan patung tersebut sempat terhenti, sebab warga yang membuat patung itu tiba-tiba meninggal dan yang lainya cacat tangan.
  belum sempat jadi, beberapa orang so saki bahkan ada yang cacat tangan” ungkap jaya warga poyowa kecil.

Pembuatan patung tersebut terhenti beberapa waktu dan disusul dengan hujan yang deras sehingga ukiran-ukiran patung yang terbuat dari semen  retak dan hancur.

Peristiwa tersebut membuat warga menyakini bahwa Inde Dou, tidak ingin patungnya dibuat (kino doi’annya) sehingga, kini dijadikan tugu yang berlokasi di persimpangan tiga poyowa kecil , molinow dan  mongondow.

Inde dou merupakan wanita yang terkenal akibat kesaktianya, ia juga dikenal dengan sosok wanita yang cerdas dan diakui oleh raja-raja sebab ktitikan-kritikan yang sifatnya membangun.

Hingga kini masyarakat Bolaang Mongondow meyakini bahwa inde dou seorang wanita (Gender) yang patut dicontohi, namun sayangnya tempat peristirahatan terakhir inde dou masih menyimpan misteri dan tidak diketahui tempatnya. (*)

Terbentuknya Pemukiman Kinomaligan

Jumat, 02 November 2012

Sejarah Desa
Terbentuknya Pemukiman Kinomaligan
Liputan : Kano Tontolawa
Editor : Didink

Dumoga – Sejenak kita sedikit menggali sejarah Desa Kinomaligan Kecamatan Dumoga Barat Kabupaten Bolmong. Desa Kinomaligan sebelum menjadi desa, awalnya masih  hutan belantara. Daerah ini dahulu masih menjadi bagian dari daerah Doloduo pada tahun pada tahun 1951. Kemudian 1957 Desa Doloduo mekar dan  dinamakan Desa Kinomaligan dan mulai menjadi Desa yang mandiri.
Lokasi Persawahan Desa Kinomaligan

Menurut cerita warga Desa Kinomaligan, sebagian besar penduduk Desa ini berasal dari Desa Kopandakan, Mopait, dan Tungoi. Akan tetapi tidak ada yang tahu pasti jika penduduk pertama desa ini kalau dari Desa Kopandakan, Mopait atau Tungoi, tapi yang jelas Desa ini sudah dihuni kurang lebih 6 tahun sebelum menjadi desa definitif.

Penduduk pertama Desa ini, bermarga Mokodompit, Dalian, Tongkukut, Modeong, Mokotumbong, kemudian beturut berdatangan marga-marga seperti Damodalag, Buyongi, Eda, Paan, Paputungan, Tonggi, Datalamon, Toloy, Bulut, Luli, Mokodongan, Bobuyongki dan lain-lain.

Menurut cerita Sangadi (kepala desa-red ) Ramli Buyongi  kepada Media Totabuan, cerita dari masyarakat jaman dahulu  dijelaskanya pada waktu Desa Kinomaligan dimekarkan masyarakat bermata pencaharian sebagai petani .
Pada waktu itu lahan tanah pertanian yang digarap masih milik pribadi masyarakat Kinomaligan sehingganya kehidupan masyarakat pada waktu itu ekonominya masih sangat berkecukupan.

Namun sayangnya di Tahun 1960 ketika ada Program Transmigrasi yang mulai datang wilayah Dumoga, lahan yang sebelumnya menjadi urat nadi dari mata pencaharian penduduk Desa Kinomaligan dijadikan lahan para Transmigrasi.

Waktu itu pemerintah menjanjikan lahan tersebut akan diganti, namun janji pemerintah tersebut sampai saat ini pembayaran ganti rugi lahan belum sepenuhnya diberikan oleh pemerintah.

Desa Kinomaligan sejak pertama kali dimekarkan sudah dipimpin Tujuh orang Sangadi. Letak dan luas wilayah Desa Kinomaligan merupakan salah satu dari 14 Desa yang ada di Kecamatan Dumoga Barat yang terletak 6 kilo meter dari ibu Kota Kecamatan dan mempunyai luas wilayah seluas 950 hektare. (Knt/Dk)

Sejarah Desa Mongondow

Kamis, 01 November 2012

Sejarah Desa
Kelurahan Mongondow asal kata “Momondow” 

Kota Kotamobagu
Kotamobagu - Kata “mongondow” berasal dari kata “momondow”, yang artinya berteriak. Dikisahkan pada zaman dahulu kala sekelompok Bogani mengadakan perburuan hewan dihutan sekitar “ totaboian mointok” yang kini bernama “motoboi mointok”.

Dalam perburuan tersebut, para Bogani mendapatkan seekor rusa saat akan membersihkan darah dari rusa buruan tersebut, para bogani tidak mendapatkan air disekitaran  totaboian mointok, hingga ditugaskan dua orang bogani untuk mencari air. 

Akhirnya salah seorang dari mereka mengambil sepotong bambu yang diruncingkan ujungnya dan ditancapkan ke tanah. Tak disadari keluarlah air dari bekas tacapan bamboo tersebut. Karena kaget bogani tersebut berteriak “momondow” untuk memberikatahuakan kepada bogani lainya yang berada di totaboian mointok. Ini lah awal mengapa perkampungan dinamakan mongondow.

Kelurahan  Mongondow pada awalnya merupakan satu pendukuhan ( perkampungan kecil) yang dinamai “ bulu mondow” yang berarti bulu (bambu) yang ditancapkan ke tanah kemudian terdengar teriakan ( mondow). 

Seiring bertambahnya jumlah penduduk, akhirnya pendukuhan bulu mondow dirubah statusnya menjadi pedesaaan dan berubah nama menjadi Mongondow. 

Perubahan status didesa terjadi pada tahun 1946 dengan Sangadi atau Kepala Desa pertama Bapak Kabonte, seiring perkembangan pembangunan, pemerintahan dan kemasyarakatan, pada tahun 1981 Desa Mongondow beralih status menjadi kelurahan dengan lurah pertama Bapak S. Munggol hingga sekarang. (Tr-10/Dk)   

Warga Bakan Ancam Blokir Jalan

Rabu, 31 Oktober 2012


Warga Bakan Ancam Blokir Jalan

Demo Warga Bakan Beberapa waktu lalu
Lolayan – Masyarakat Desa Bakan Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolmong, serius mengancam akan memblokir jalan menuju perusahaan PT J-Resorces Bolaang Mongondow (JRBM), jika JRBM   akan mengganggu lokasi pertambangan Rakyat “Osela”. Menurut warga,  warga mengindikasikan perusahaan akan mengambil alih lahan tersebut.

Hal ini dikatakan oleh salah satu tokoh masyarakat Desa Bakan Hudri Mokodompit kepada Media Totabuan pecan lalu, dikatakannya kalau Lokasi Osela yang sekarang sudah menjadi lokasi pertambangan rakyat Desa Bakan adalah milik mereka dan tidak akan mereka jual kepada siapapun, apalagi kepada pihak perusahaan PT J-Resources.

“PT J-Resources jika tidak menggangu lahan  kami masyarakat , kami masyarakat juga  tidak akan menggangu mereka ,”tegas Hudri

Dikatakanya lagi jika pihak Perusahaan PT J-Resources akan memaksakan niatnya untuk membeli lokasi tersebut yaitu menghalalkan bermacam cara, kami masyarakat akan tetap mempertahankan lokasi itu, karena lahan tersebut adalah tanah Adat milik kami dan kami berhak mempertahankannya.

“Lahan tersebut akan kami terus pertahankan dan kami tidak akan keluar dari lokasi lahan tersebut”ujarnya.

Disisi lain dia juga meminta kepada Sangadi (kepala desa-red) Desa Bakan A Y Mamonto, agar kirannya dapat ikut serta dengan masyarakat untuk mempertahankan lahan  tersebut. “kami meminta kepada sangadi untuk berjuang bersama rakyat dan bisa merespon keluhan dan aspirasi masyarakat”. 

Sangadi sekarang terkesan tidak lagi mempedulikan keluhan dari warga desa Bakan,” tambahnya. ( Knt/Dink)

Misteri Mistik Tudu In Lolayan

Senin, 29 Oktober 2012



Misteri Mistik Tudu In Lolayan


 
Gunung Tudu Lolayan
Kotamobagu - Tudu in lolayan terletak di Kelurahan Mongkonai Kecamatan Kotamobagu Barat yang kini menjadi perkebunan milik warga setempat ternyata menyimpan banyak cerita dari para orang tua jaman dahulu. 

Konon katanya, tudu in Lolayan atau puncak gunung lolayan menyimpan misteri mistik yang tersebar di kalangan warga setempat.

Menurut penuturan dari salah satu warga yang biasa di sapa om Bibi di Kelurahan Mongkonai sekarang, gunung tudu in Lolayan kerap menyembunyikan orang yang sempat melintasi di pergunungan itu, bahkan ada sebagian warga dinyatakan hilang karena melewati gunung tersebut, namun belakangan orang tersebut kembali ditemukan dalam keadaan selamat. Menurut penuturan mereka yang sempat hilang, bahwa mereka ketika melewati daerah tersebut sering mendengar suara menyerupai suara perempuan.

Bahkan banyak para petani yang akan menuju perkebunan mendengar suara kulintang. Tidak hanya itu warga sering melihat penampakan mahluk halus saat melintas di puncak gunung lolayan.

Namun ada juga orang tertentu yang diyakini bisa melihat pondok dan sebuah kuburan, ini diperlihatkan bagi orang orang di sayangi yakni sebuah pejaga gunung itu. Sampai saat ini warga yang memiliki kebun disekitar gunung ini harus mematuhi aturan-aturan agar tidak mendapat musibah. Persyaratan yang harus dipatuhi dintaranya memotong bambu (Aog-Mongondow) untuk keperluan tidak boleh diwaktu sore hari, warga diperbolehkan memotong bambu diwaktu pagi atau siang hari.

Konon  dulunya, Tudu in lolayan atau puncak gunung lolayan merupakan tempat persembunyian para Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta ). Hingga kini pergunungan tersebut masih menyimpan misteri yang belum terungkap.(m-10)

POLITIK

Lihat Lainnya »

HUKRIM

Lihat Lainnya »

LIPU NATON

Lihat Lainnya »

NASIONAL

Lihat Lainnya »