Refleksi 14 Tahun Reformasi

Masih ingat dengan gerakan nasional reformasi yang digulirkan oleh ratusan ribu
kaum muda, yang terciri dari sejumlah organisasi masyarakata maupun mahasiswa.
Siapa sangka, dibalik aksi yang cukup menggemparkan secara nasional tersebut
pada Mei 1998 lalu, salah satu legislator yang kini duduk di DPRD Provinsi yang
merupakan utusan Bolmong Raya, ternyata menjadi salah satu actor yang cukup
berperan dalam gerakan yang pada akhirnya melengserkan Soeharto setelah 32
tahun memimpin Indoensia. Dialah Benny Rhamdani, sosok yang dikenal sebagai
salah satu ‘singa podium” di DPRD PRovinsi Sulut tersebut, ternyata memiliki segudang
pengalaman ketika menumbangkan rezim Soeharto.
Perjuangan dalam membela hak-hak rakyat kecil yg dimarginalisasi secara
ekonomi, mengalami ketidakadilan dalam penegakkan Hukum, hingga rakyat yang
tergusur dan dirampas hak-hak kepemilikan tanahnya atas nama kepentingan umum,
kadang ia lakukan dengan cara yang tidak lajim dan bahkan dianggap 'haram' oleh
penguasa orde baru saat itu.
Mulai dari penggalangan Rakyat miskin dan tertindas hingga aksi-aksi
demonstarasi yg dilakukannya, tidak segan-segan langsung menembak jantung
kekuasaan. Sehingga tidak heran jika Ia dicatat sebagai Musuh Orde baru no 1 di
Sulawesi Utara.
Perjuangan Brani-sapaaan akrab Benny, berawal ketika melakukan diskusi dikampus
pada bulan November tahun 1997.
"Diskusi ini pun digelar
ditiap-tiap kampus diseluruh Indonesia," ungkap Benny.
Hasilnya, dari diskusi itu, mereka
meminta agar seluruh yang dibicarakan bisa dibawa ke Jakarta. Benny sendiri kemudian
berangkat ke Jakarta mewakili Unsrat pada bulan Januari 1998 untuk melakukan
perlawanan terhadap rezim Soeharto.
"Walaupun saat itu, pemimpin Unsrat
tidak sependapat dengan perjuangan," katanya.
Di Jakarta, dirinya kemudian melakukan aktivitas perjuangannya di Universitas
Indonesia (UI), dengan melakukan orasi yang mengajak mahasiswa UI untuk turun
berjuang bersama dengan mahasiswa lainnya. Di kampus ternama itu, Benny
kemudian menunjukkan salah satu aksi yang bisa dikatakan ‘Gila’, dengan cara menyayat
tangannya menggunakan silet.
Seketika itu, dia pun kemudian dilarikan ke rumah sakit. Sebanyak 24 jahitan
pun harus menutupi luka akibat kegilaanya tersebut. Perjuangan di UI awalnya
terkesan sia-sia karena kampus kuning itu ternyata mempunyai moto kampus
perjuangan orde baru.
"Mereka saya minta untuk
bertanggung jawab karena telah melahirkan rezim orde baru," tegasnya.
Kegilaan lainnya untuk merubah sebuah sistem pun tak hanya berhenti disitu
saja. Dia bersama seorang temannya bernama Wahab Talaohu(aktisis'98 dari
Univeritas Jakarta) melakukan aksi Mogok Makan selama 5 Hari di Halaman Kantor
YLBHI-Jakarta. Walaupun akhirnya Ia bersama temannya harus dilarikan dengan
menggunakan 2 mobil Ambulance, dan diantar langsung oleh Munir dan Adnan Buyung
Nasution(Keduanya dikenal sebagai pejuang Demokrasi dan Kemanusiaan) ke Rumah
Sakit ST. Carollus, karena harus mendapatkan perawatan serius setelah 'tumbang'
di hari Ke-5 karena aksi mogok makan tersebut.
Di RS, Benny Rhamdani yang baru menjalani perawatan kurang lebih 3,5 jam
langsung dilarikan dari Rumah Sakit dan disembunyikan selama 1 Minggu di Rumah
Gusdur di Ciganjur, sehubungan munculnya isu rencana penculikan kepada
dirinya dan Wahab Talaohu oleh 'pihak tertentu'.
Apa yg dilakukan para aktifis mahasiswa, khususnya di Era Orde Baru, bukan
berarti tanpa resiko. Begitupun yg dialami Benny Rhamdani. Di sulawesi Utara,
Benny Rhamdani tidak sekedar menjadi musuh Penguasa, tapi kelompok kapitalis
dan Pengusaha yang merasa terganggu kepentingan bisnisnya, menganggap bahwa
Benny Rhamdani adalah orang yang harus 'Dihabisi'.
Karena itulah, pada tahun 1997, Benny Rhamdani dan Keluarganya Hampir menjadi
Korban Rencana Pembunuhan, selain Rumah Kakaknya di perkamil yang menjadi
tempat menumpang dengan anak istrinya di hancurkan oleh para Preman Bayaran
yang menyerbunya pada jam 03.00 subuh hari.
Dilevel Gerakan Nasional, Benny Rhamdani dicatat dan dikenal oleh teman-teman
seangkatannya sebagai aktifis 'Gila'. Ide dan gagasan-gagasannya perlawan yg
ditawarkan dalam diskusi-diskusi selalu Gerakan bersifat Aksi alternatif yang
disitilahkannya sebagai 'Kanalisasi Isu dan Revolusi Situasi". Sehingga
Aktifis'98 sekelas Adian Napitupulu(Ketua Forkot), menjulukinya sebagai aktifis
yg melahirkan teori Eksperimentasi.
Adnian saat diwawancarai mengaku mengenal Benny saat berdemo pertama kali di
UI. Ketika itu dia kaget melihat seorang pemuda melakukan aksi nekat menyayat
tangannya dengan silet. "Disitu saya hanya mengenal begitu saja tidak
terlalu dekat. Setelah itu saya mendengar pria itu melakukan aksi mogok
makan," ucapnya.
Perkenalan mereka pun berlanjut ketika Adnian dan Benny Rhamdani mengusulkan
kepada sejumlah mahasiswa dalam diskusi agar perjuangan dilanjutkan dengan cara
menduduki kantor DPR RI.
"Awalnya saya yang mengusulkan
disetiap diskusi di beberapa kampus, tapi selalu ditolak. Nah, di satu kampus
di Jakarta Selatan, saya mengusulkan itu, tapi tetap ditolak, namun Benny pun
menyarankan agar mencobanya," terangnya.
Nah, berbicara mengenai Reformasi, Benny pun mengatakan bahwa agenda itu telah
dibelokan dari rel yg sebenarnya dan dari semangat yang melatarbelakangi
kelahiran Reformasi yang sesungguhnya.
Menurutnya, cita-cita Reformasi telah dibajak dan dikhianati kaum elit yang
hari ini berkuasa dan mereka yang menjadi penyelenggara negara yang sebenarnya
bisa berkuasa karena adanya reformasi itu sendiri.
"Dengan situasi dan kondisi bangsa ini sudah semakin memburuk. Kapal yang
bernama Indonesia sudah bocor-bocor dan tinggal menunggu tenggelam. Masa depan
masyarakat kita berada pada lorong gelap," ucapnya. Untuk keluar dari
situasi ini, lanjutnya, hanya ada dua pilihan
Pertama, melalui cara konstitusional Pemilihan Umum baik Legislatif maupun
presiden. Ini harus dengan cara mementuk Penyelenggara Pemilu Independen yang
orang-orangnya tidak bermental Bandit atau rampok. Masyarakat juga harus
mengawasi proses demokrasi secara ketat melalui seluruh tahapan, dan Pilih
calon legislatif dan Presiden yang memiliki rekam jejak positif, yang
menawarkan Program Pro Rakyat, dan memiliki nasionalisme yang tinggi serta
ideologi yang anti Neoliberalisme dan Kapitalisme.
"Karena denga cara inilah, maka kita akan menjadi Bangsa sebagaimana yang
dicita-citakan Soekarno, yaitu Bangsa yg Berdaulat secara Politik, Berdikari
secara Ekonomi dan Berkepribadian secara Budaya. Jika gagal melalui cara
konstitusional, maka tidak ada pulihan lain, satu-satunya cara yang harus
dilakukan adalah Revolusi," tegasnya. (*/Jun/Dhink)